LAPORAN
NAPAK TILAS
HAJI
SAMANHUDI
Oleh Hemas Diningrum
S1 DKV UNS
2016/2017
Haji Samanhudi
Terlahir sebagai anak dari pengusaha batik H. Muh. Zein di Laweyan, Solo pada
tahun 1868 dengan nama Sudarno Nadi. Seakan sudah menjadi tradisi bahwa anak
juragan batik harus meneruskan usaha orang tuanya. Usaha batik yang dijalankan
oleh Wiryo Wikoro, nama lain dari Samanhudi berjalan sukses, memiliki ratusan
pegawai, membuahkan keuntungan rata-rata 800 gulden per hari – angka yang besar
zaman itu.
Persaingan antar pedagang batik pun menjadi semakin ketat. Dikisahkan
pengusaha batik Tionghoa dibantu Belanda berusaha memonopoli jalur perdagangan
batik. Terjadi kesenjangan yang dibumbui provokasi demi provokasi. Akhirnya
Samanhudi mendirikan sebuah organisasi yang menampung pedagang batik pribumi
dengan tujuan melawan tekanan dari Belanda serta memperjuangkan nasib
mereka agar menjadi lebih baik.
“Sebersih-bersih
tauhid (akidah). Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan (ilmu).
Sepandai-pandai siasat (politik)”
Ungkapan di itu merupakan garis ideologi SI yang awalnya merupakan sebuah
organisasi bernama Rekso Rumekso yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada
tanggal 3 Maret 1905. Rekso Rumekso adalah perkumpulan kematian yang dikelola
oleh pedagang batik Pribumi di bawah pimpinan Haji Samanhudi di Lawean,
Surakarta.
Perkumpulan
ini hanya bertahan 6 bulan saja karena pada tanggal 16 Oktober 1905, Haji
Samanhudi mengadakan rapat dengan beberapa orang temannya sesama kaum pedagang
tentang pembentukan sebuah perkumpulan. Orang-orang yang hadir dalam rapat
tersebut antara lain; Sumawardjojo, Hardjosumarto, Martaiko, Wirjotirto, Sukir,
Suwandhi, Suraprasanto, dan Djarmani. Dalam rapat tersebut, diputuskan untuk
mendirikan sebuah perkumpulan dagang islam yang diberi nama Sarekat Dagang
Islam (SDI).
Sarekat Dagang Islam (
SDI ) resmi berdiri pada tahun 1905 dengan Samanhudi sebagai pemimpin
organisasinya. Kesuksesan SDI menyebar dan meluas dengan cepat, terbukti
dengan munculnya cabang-cabang SDI yang ada di beberapa kota. Atas
dorongan beberapa pengurus dan anggota, sejak tahun 1912 SDI yang kian
ditakuti oleh Belanda berubah menjadi partai politik dengan nama baru Sarekat Islam (
SI ) yang dipimpin oleh ketua baru asal Surabaya bernama HOS Tjokroaminoto.
Kongres SI yang pertama diselenggarakan di
Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913, dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto.
Dalam kongres itu ia menerangkan bahwa SI bukan partai politik, dan SI tidak
beraksi melawan pemerintahan kolonial Belanda. Walaupun demikian, dengan Agama
Islam sebagai landasan persatuan dan kesatuan penuh untuk mempertinggi derajat
pribumi, SI tersebar ke seluruh Pulau Jawa. Dan beberapa tempat berdiri
cabang-cabang SI yang jumlah anggotanya sangat besar, seperti di Jakarta
misalnya, jumlah anggotanya kurang lebih 12.000 orang. Pemerintah Belanda tidak
senang melihat perkembangan SI yang begitu pesat. SI dengan dasar keagamaannya,
mempunyai potensi yang luar biasa untuk menghimpun pengikut diantara rakyat.
Meskipun tujuannya mencangkup kegiatan sosial ekonomi, menciptakan kehidupan
keagamaan Islam, mempertinggi taraf kehidupan rakyat pada umumnya, menganjurkan
kepatuhan kepada pemerintah, namun penguasa kolonial menyadari penuh kekuatan
massa dari SI.
Dalam
perkembangan selanjutnya, didirikan Central Sarekat Islam (CSI) di Surabaya
pada 1915. Pendirian CSI dimaksudkan untuk memajukan dan membantu SI di dalam
menjalankan dan memelihara hubungan serta kerjasama di antara mereka.
Permintaan CSI untuk diakui sebagai organisasi berbadan hukum dikabulkan oleh
pemerintah kolonial Belanda dengan Surat Keputusan tertanggal 18 Maret 1916.
Dalam keputusan itu ditegaskan bahwa CSI diwajibkan mengawasi tindakan dari
pengurus serta anggota-anggota SI lokal, disusun pula pengurus pertama CSI,
H.O.S. Tjokroaminoto sebagai ketua, Abdul Muis sebagai Wakil Ketua bersama Haji
Gunawan.
Untuk
menghargai jasa Samanhudi sebagai pendiri organisasi SI, maka CSI mengangkat
Haji Samanhudi sebagai Ketua Kehormatan (Sitorus 1987 : 19-20). Selanjutnya SI
mengadakan Kongres di Bandung pada tanggal 17-24 Juni 1916 yang dipimpin oleh
H. O. S. Tjokroaminoto. Pengurus ini dinamakan Kongres Nasional pertama SI.
Pada konggres SI tahun 1917 di Jakarta muncul aliran revolusioner sosialistis
yang diwakili Semaun yang pada waktu itu menjadi ketua SI lokal Semarang. Namun
kongres itu memutuskan bahwa azas perjuangan SI ialah mendapatkan zeif bestuur atau
pemerintah sendiri, selain ditetapkan pula azas yang kedua berupa perjuangan
melawan penjajah dari kapitalisme yang jahat, sejak itupula Tjokroaminoto dan
Abdul Muis mewakili SI dalam Volksraad(Dewan Rakyat).
Haji Samanhudi telah wafat pada 28 Desember
1956 dan dimakamkan di Desa Banaran, Sukoharjo. Untuk mengenang jasa beliau,
Presiden Soekarno memberinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1960 serta
memberikan hadiah sebuah rumah hasil rancangannya. Jasanya juga
masih dikenang oleh warga Sondakan yang menampung koleksi museum dan
dokumentasi tentang Samanhudi di Kelurahan Sondakan. Ya tak salah baca, ada
museum di kelurahan. Sebelumnya Museum Samanhudididirikan
dan dikelola oleh Yayasan Warna Warni milik Nina Akbar Tanjung di rumah bekas
keluarga Samanhudi yang terletak di Laweyan.
No comments:
Post a Comment