Saturday, September 24, 2016

LAPORAN NAPAK TILAS HAJI SAMANHUDI

LAPORAN NAPAK TILAS
HAJI SAMANHUDI

Oleh Hemas Diningrum
S1 DKV UNS 2016/2017 
        

 Haji Samanhudi Terlahir sebagai anak dari pengusaha batik H. Muh. Zein di Laweyan, Solo pada tahun 1868 dengan nama Sudarno Nadi. Seakan sudah menjadi tradisi bahwa anak juragan batik harus meneruskan usaha orang tuanya. Usaha batik yang dijalankan oleh Wiryo Wikoro, nama lain dari Samanhudi berjalan sukses, memiliki ratusan pegawai, membuahkan keuntungan rata-rata 800 gulden per hari – angka yang besar zaman itu.

Persaingan antar pedagang batik pun menjadi semakin ketat. Dikisahkan pengusaha batik Tionghoa dibantu Belanda berusaha memonopoli jalur perdagangan batik. Terjadi kesenjangan yang dibumbui provokasi demi provokasi. Akhirnya Samanhudi mendirikan sebuah organisasi yang menampung pedagang batik pribumi dengan tujuan melawan tekanan dari Belanda serta memperjuangkan nasib mereka agar menjadi lebih baik.


“Sebersih-bersih tauhid (akidah). Setinggi-tinggi ilmu pengetahuan (ilmu). Sepandai-pandai siasat (politik)”  Ungkapan di itu merupakan garis ideologi SI yang awalnya merupakan sebuah organisasi bernama Rekso Rumekso yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada tanggal 3 Maret 1905. Rekso Rumekso adalah perkumpulan kematian yang dikelola oleh pedagang batik Pribumi di bawah pimpinan Haji Samanhudi di Lawean, Surakarta.

Perkumpulan ini hanya bertahan 6 bulan saja karena pada tanggal 16 Oktober 1905, Haji Samanhudi mengadakan rapat dengan beberapa orang temannya sesama kaum pedagang tentang pembentukan sebuah perkumpulan. Orang-orang yang hadir dalam rapat tersebut antara lain; Sumawardjojo, Hardjosumarto, Martaiko, Wirjotirto, Sukir, Suwandhi, Suraprasanto, dan Djarmani. Dalam rapat tersebut, diputuskan untuk mendirikan sebuah perkumpulan dagang islam yang diberi nama Sarekat Dagang Islam (SDI).

Sarekat Dagang Islam ( SDI ) resmi berdiri pada tahun 1905 dengan Samanhudi sebagai pemimpin organisasinya. Kesuksesan SDI menyebar dan meluas dengan cepat, terbukti dengan munculnya cabang-cabang SDI yang ada di beberapa kota. Atas dorongan beberapa pengurus dan anggota, sejak tahun 1912 SDI yang kian ditakuti oleh Belanda berubah menjadi partai politik dengan nama baru Sarekat Islam ( SI ) yang dipimpin oleh ketua baru asal Surabaya bernama HOS Tjokroaminoto.


Kongres SI yang pertama diselenggarakan di Surabaya pada tanggal 26 Januari 1913, dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Dalam kongres itu ia menerangkan bahwa SI bukan partai politik, dan SI tidak beraksi melawan pemerintahan kolonial Belanda. Walaupun demikian, dengan Agama Islam sebagai landasan persatuan dan kesatuan penuh untuk mempertinggi derajat pribumi, SI tersebar ke seluruh Pulau Jawa. Dan beberapa tempat berdiri cabang-cabang SI yang jumlah anggotanya sangat besar, seperti di Jakarta misalnya, jumlah anggotanya kurang lebih 12.000 orang. Pemerintah Belanda tidak senang melihat perkembangan SI yang begitu pesat. SI dengan dasar keagamaannya, mempunyai potensi yang luar biasa untuk menghimpun pengikut diantara rakyat. Meskipun tujuannya mencangkup kegiatan sosial ekonomi, menciptakan kehidupan keagamaan Islam, mempertinggi taraf kehidupan rakyat pada umumnya, menganjurkan kepatuhan kepada pemerintah, namun penguasa kolonial menyadari penuh kekuatan massa dari SI.


Dalam perkembangan selanjutnya, didirikan Central Sarekat Islam (CSI) di Surabaya pada 1915. Pendirian CSI dimaksudkan untuk memajukan dan membantu SI di dalam menjalankan dan memelihara hubungan serta kerjasama di antara mereka. Permintaan CSI untuk diakui sebagai organisasi berbadan hukum dikabulkan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan Surat Keputusan tertanggal 18 Maret 1916. Dalam keputusan itu ditegaskan bahwa CSI diwajibkan mengawasi tindakan dari pengurus serta anggota-anggota SI lokal, disusun pula pengurus pertama CSI, H.O.S. Tjokroaminoto sebagai ketua, Abdul Muis sebagai Wakil Ketua bersama Haji Gunawan.

Untuk menghargai jasa Samanhudi sebagai pendiri organisasi SI, maka CSI mengangkat Haji Samanhudi sebagai Ketua Kehormatan (Sitorus 1987 : 19-20). Selanjutnya SI mengadakan Kongres di Bandung pada tanggal 17-24 Juni 1916 yang dipimpin oleh H. O. S. Tjokroaminoto. Pengurus ini dinamakan Kongres Nasional pertama SI. Pada konggres SI tahun 1917 di Jakarta muncul aliran revolusioner sosialistis yang diwakili Semaun yang pada waktu itu menjadi ketua SI lokal Semarang. Namun kongres itu memutuskan bahwa azas perjuangan SI ialah mendapatkan zeif bestuur atau pemerintah sendiri, selain ditetapkan pula azas yang kedua berupa perjuangan melawan penjajah dari kapitalisme yang jahat, sejak itupula Tjokroaminoto dan Abdul Muis mewakili SI dalam Volksraad(Dewan Rakyat).

Haji Samanhudi telah wafat pada 28 Desember 1956 dan dimakamkan di Desa Banaran, Sukoharjo. Untuk mengenang jasa beliau, Presiden Soekarno memberinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1960 serta memberikan hadiah sebuah rumah hasil rancangannya. Jasanya juga masih dikenang oleh warga Sondakan yang menampung koleksi museum dan dokumentasi tentang Samanhudi di Kelurahan Sondakan. Ya tak salah baca, ada museum di kelurahan. Sebelumnya Museum Samanhudididirikan dan dikelola oleh Yayasan Warna Warni milik Nina Akbar Tanjung di rumah bekas keluarga Samanhudi yang terletak di Laweyan.

No comments:

Post a Comment