Sunday, October 23, 2016


JADILAH KREATIF DENGAN BERWIRAUSAHA

Oleh Hemas Diningrum DKV S1 2016/2017

Kewirausahaan adalah proses mengkreasikan atau menciptakan sesuatu dengan menambahkan nilai yang di dukung komitmen pada tim dan usaha, memperkirakan kemungkinan finansial, fisik, dan resiko sosial dan menerima hasil berupa finansial, kepuasan dan kebebasan pribadi.
Terkadang orang berpikir para usahawan adalah orang yang sudah mapan dan memiliki banyak dana untuk menjalankan usahanya. Tapi tidak selalu seperti itu, dunia wirausaha kini tidak hanya menjadi menjadi dunia bagi orang yang mapan dan memiliki banyak modal akan tetapi berwirausaha saat ini dapat juga dilakukan orang – orang kecil bahkan mahasiswa pun bisa melakukan nya.

Meningkatkan mental generasi muda dalam berwirausaha adalah salah satu cara untuk membangun jiwa enterpreneur yang tangguh. Karena ,walaupun seseorang memahami strategi wirausaha tapi dia tidak berani terjun ke dalam dunia usaha,maka proses wirausaha pun tidak akan terwujud. Banyak yang takut akan ketatnya persaingan dengan perusahaan asing yang bermodal besar, sehingga menciutkan mental dari para enterpreneur muda indonesia. Sebenarnya, persaingan terjadi bukan untuk saling menjatuhkan antar pengusaha,tetapi persaingan terjadi untuk lebih memotivasi para pengusaha tersebut untuk lebih berinovasi dalam hasil produksi,distribusi,dan pemasarannya.

Menjadi seorang mahasiswa yang kreatif itu bukkan hal yang sulit, namun bukkan berarti itu mudah. Wirausaha mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan  pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang wirausahawan disarankan untuk melaksanakan fungsi-fungsi managerial mendasar seperti pengarahan dan penalaksanaan.

Untuk menumbuhkan jiwa wirausaha berbasis entrepreneurship ini memang dapat ditempuh dengan berbagai cara. Diantara cara-cara yang dimaksudkan yaitu dengan jalan mengikuti seminar tentang kewirausahaan (entrepreneurship), sering membaca biografi orang-orang sukses, membiasakan diri untuk bersurvival di tempat yang masih asing baginya, membiasakan hidup mandiri, serta yang paling penting yaitu membiasakan untuk menumbuhkan rasa saling peduli terhadap sesama. Bagi mahasiswa, perlu diadakan mata kuliah tentang kewirausahaan dibarengi dengan praktiknya . Peran pemerintah memberikan bantuan modal kepada mahasiswa untuk berwirausaha juga sangat dibutuhkan.

Sumber keberhasilan dari seorang wirausaha juga terletak padamotivasinya. Dorongannya untuk bisa melakukan, menemukan atau memberi nilai tambah pada produk atau jasanya biasanya lebih besar ketimbang motivasinya untuk sekedar punya bisnis atau mengeruk keuntungan sebesar besarnya. Wirausha yang sukses biasanya meningkatkan kecepatan,ketepatan dan kemudahan , tanpa cepat merasa puas.


Perkembangan di era globalisasi ini menuntut kita untuk mencari terobosan dengan menanamkan sedini mungkin mengenai nilai-nilai kewirausahaan terutama bagi kalangan terdidik, terlebih lagi bagi warga Perguruan Tinggi. Penanaman nilai-nilai kewirausahaan bagi banyak orang diharapkan mampu menumbuhkan jiwa kreativitas untuk berbisnis atau berwirausaha sendiri dan tidak tergantung pada pencarian kerja yang semakin hari semakin ketat persaingannya. Nilai-nilai tersebut berguna bagi pengusaha pemula untuk memberikan pondasi yang kuat dari usaha yang digeluti serta menciptakan inovasi dan kreativitas sehingga produk yang dihasilkan dapat diterima pasar dengan baik. Itu semua berawal dari suatu pengelolaan ide bisnis sehingga didapatkan peluang usaha yang maksimal.
AKSI

Oleh Hemas Diningrum DKV S1 2016/2017

            Aksi, yang terlintas pada benak setiap orang pasti adalah sebuah gerakan nyata yang menghasilkan perubahan. Namun bagaimana dengan aksi demonstasi? Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa bukanlah hal baru. Setiap bulan, dalam surat kabar atau televisi, mahasiswa dengan almamater berbagai warna silih berganti menyuarakan pendapatnya.

            Mahasiswa harus berpegang teguh pada satu ideologinya. Mengepa ia turun kejalan., mengapa ia rela berpanas  - panasan dan rela terlukka demi menyampaikkan sebuah suara. Jawabannya hanya bisa dikketahui pada diri mereka masing-masing. Satu hal yang pasti. Ketika ia perpegang teguh pada ideologinya. Sedangkan orang tanpa ideologi melakukkan aksi. Bagaikan kerang tanpa cangkang. Tak ada perlindungan, tak ada tujuan.

            Belum lagi aksi yang dilakkuakn mahasiswa tidaklah sembarangan. Mereka merencanakan sebuah aksi dengan berbagai pertimbangan dan kajian. Menejemen aksi mahasiswa haruslah terpikir dengan matang. Mereka harus bersikap dengan benar di depan wartawan. Menyembunyikkan nama mereka dibalik almamaternya.
            Ada beberapa bentuk tanggapan dari aksi demonstran tersebut. Pertama adalah pendapat yang menyetujui aksi demonstran. Biasanya, pendapat ini didasarkan atas keprihatinan terhadap mahasiswa yang dipandang telah bungkam. Tidak tahu dan tidak mau tahu urusan rezim penguasa. Mereka biasa membandingkan mahasiswa era reformasi dengan mahasiswa saat ini, kemudian teriak, mencari ke mana mahasiswa sekarang.
Kedua, pendapat yang menyetujui isi dari aksi demonstran. Pendapat ini tidak sepenuhnya mendukung aksi bakar boneka atau teriak-teriak dengan TOA yang baru dibayar sewa uang mukanya saja. Mereka sepakat dengan pendapat demonstran, tetapi tidak menyetujui cara demonstran dalam bersuara.
Ketiga, pendapat yang mempertanyakan efektivitas demonstrasi. Toh, suara-suara demonstran tidak didengar, paham mereka. Pendapat ini berusaha mengarahkan demonstrasi tradisional ke demonstrasi modern, seperti media sosial. Alih-alih turun ke jalan, mereka memilih berdemonstrasi di media sosial. Demonstrasi belum makan, demonstrasi minta dibelikan ponsel baru. Oleh karena itu, demonstrasi modern ini pun juga dipertanyakan keefektifan dan perannya.
Keempat, pendapat yang apatis terhadap apapun tindakan demonstran. Membuat macet, berisik, dan rentan perusakan fasilitas umum. Pendapat inilah yang menganggap demonstran hanyalah kumpulan mahasiswa ber-IPK satu koma yang berbicara di jalan karena tidak bisa berbicara saat presentasi.
Demonstrasi sebenarnya bisa menjadi bentuk kecintaan demonstran terhadap negara. Masalah kemacetan dan gangguan yang ditimbulkan sesuai pendapat ketiga dan keempat di atas hanyalah persoalan bungkus yang tidak dikemas secara kreatif. Meskipun, pendapat pertama tidak sepenuhnya dapat diterima.
Era reformasi berbeda dengan era pascareformasi. Perjuangan berpendapat dengan anarkisme sudah selesai, sebagaimana perjuangan kemerdekaan dengan menggunakan senjata. Bungkus harus mengikuti perkembangan zaman sementara isi harus mempunyai esensi yang tidak berubah. Turun ke jalan bukanlah hal yang esensial saat informasi bisa begitu cepat tersebar. Mahasiswa demonstran tidak lagi hanya mahasiswa yang turun ke jalan dan membakar ban, tetapi juga yang bersuara dalam forum-forum maya dan tulisan-tulisan dalam surat kabar.
Kecintaan terhadap negara hanyalah merupakan kecintaan semu jika berada pada golongan yang sesuai dengan pandangan keempat. Mereka lebih mementingkan aksi dibanding isi yang disampaikan. Mahasiswa demonstran tipe ini ada, dan membahayakan definisi dari mahasiswa demonstran itu sendiri. Mahasiswa ini yang selanjutnya disebut sebagai mahasiswa yang tidak kritis.
Mahasiswa demonstran, bagi saya, memiliki sisi positif yang tidak dimiliki mahasiswa berkacamata tebal tetapi apatis terhadap negara. Keempat pandangan tersebut membuat demonstrasi terlihat lebih baik dibandingkan mahasiswa apatis. Setidaknya mahasiswa demonstran mempunyai kecintaan yang nyata, bukan hanya yang memendam dan lima tahun lagi lantas terlupa. Namun, mahasiswa demonstran dapat menimbulkan persoalan baru, yaitu mahasiswa demonstran yang tidak kritis.