AKSI
Oleh Hemas Diningrum DKV S1 2016/2017
Aksi, yang terlintas pada benak
setiap orang pasti adalah sebuah gerakan nyata yang menghasilkan perubahan. Namun
bagaimana dengan aksi demonstasi? Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa bukanlah
hal baru. Setiap bulan, dalam surat kabar atau televisi, mahasiswa dengan
almamater berbagai warna silih berganti menyuarakan pendapatnya.
Mahasiswa
harus berpegang teguh pada satu ideologinya. Mengepa ia turun kejalan., mengapa
ia rela berpanas - panasan dan rela
terlukka demi menyampaikkan sebuah suara. Jawabannya hanya bisa dikketahui pada
diri mereka masing-masing. Satu hal yang pasti. Ketika ia perpegang teguh pada
ideologinya. Sedangkan orang tanpa ideologi melakukkan aksi. Bagaikan kerang
tanpa cangkang. Tak ada perlindungan, tak ada tujuan.
Belum
lagi aksi yang dilakkuakn mahasiswa tidaklah sembarangan. Mereka merencanakan
sebuah aksi dengan berbagai pertimbangan dan kajian. Menejemen aksi mahasiswa
haruslah terpikir dengan matang. Mereka harus bersikap dengan benar di depan
wartawan. Menyembunyikkan nama mereka dibalik almamaternya.
Ada
beberapa bentuk tanggapan dari aksi demonstran tersebut. Pertama adalah
pendapat yang menyetujui aksi demonstran. Biasanya, pendapat ini didasarkan
atas keprihatinan terhadap mahasiswa yang dipandang telah bungkam. Tidak tahu
dan tidak mau tahu urusan rezim penguasa. Mereka biasa membandingkan mahasiswa
era reformasi dengan mahasiswa saat ini, kemudian teriak, mencari ke mana
mahasiswa sekarang.
Kedua, pendapat yang menyetujui isi dari aksi
demonstran. Pendapat ini tidak sepenuhnya mendukung aksi bakar boneka atau
teriak-teriak dengan TOA yang baru dibayar sewa uang mukanya saja. Mereka
sepakat dengan pendapat demonstran, tetapi tidak menyetujui cara demonstran
dalam bersuara.
Ketiga, pendapat yang mempertanyakan efektivitas
demonstrasi. Toh, suara-suara demonstran tidak didengar, paham mereka. Pendapat
ini berusaha mengarahkan demonstrasi tradisional ke demonstrasi modern, seperti
media sosial. Alih-alih turun ke jalan, mereka memilih berdemonstrasi di media
sosial. Demonstrasi belum makan, demonstrasi minta dibelikan ponsel baru. Oleh
karena itu, demonstrasi modern ini pun juga dipertanyakan keefektifan dan
perannya.
Keempat, pendapat yang apatis terhadap apapun
tindakan demonstran. Membuat macet, berisik, dan rentan perusakan fasilitas
umum. Pendapat inilah yang menganggap demonstran hanyalah kumpulan mahasiswa
ber-IPK satu koma yang berbicara di jalan karena tidak bisa berbicara saat
presentasi.
Demonstrasi sebenarnya bisa menjadi bentuk
kecintaan demonstran terhadap negara. Masalah kemacetan dan gangguan yang
ditimbulkan sesuai pendapat ketiga dan keempat di atas hanyalah persoalan
bungkus yang tidak dikemas secara kreatif. Meskipun, pendapat pertama tidak
sepenuhnya dapat diterima.
Era reformasi berbeda dengan era pascareformasi.
Perjuangan berpendapat dengan anarkisme sudah selesai, sebagaimana perjuangan
kemerdekaan dengan menggunakan senjata. Bungkus harus mengikuti perkembangan
zaman sementara isi harus mempunyai esensi yang tidak berubah. Turun ke jalan
bukanlah hal yang esensial saat informasi bisa begitu cepat tersebar. Mahasiswa
demonstran tidak lagi hanya mahasiswa yang turun ke jalan dan membakar ban,
tetapi juga yang bersuara dalam forum-forum maya dan tulisan-tulisan dalam
surat kabar.
Kecintaan terhadap negara hanyalah merupakan
kecintaan semu jika berada pada golongan yang sesuai dengan pandangan keempat.
Mereka lebih mementingkan aksi dibanding isi yang disampaikan. Mahasiswa
demonstran tipe ini ada, dan membahayakan definisi dari mahasiswa demonstran
itu sendiri. Mahasiswa ini yang selanjutnya disebut sebagai mahasiswa yang
tidak kritis.
Mahasiswa demonstran, bagi saya, memiliki sisi
positif yang tidak dimiliki mahasiswa berkacamata tebal tetapi apatis terhadap
negara. Keempat pandangan tersebut membuat demonstrasi terlihat lebih baik
dibandingkan mahasiswa apatis. Setidaknya mahasiswa demonstran mempunyai
kecintaan yang nyata, bukan hanya yang memendam dan lima tahun lagi lantas
terlupa. Namun, mahasiswa demonstran dapat menimbulkan persoalan baru, yaitu
mahasiswa demonstran yang tidak kritis.
No comments:
Post a Comment